Sunday, February 22, 2009

SIALAN !!!

Seorang gadis super kece dtg menemui dokter..
'dok, saya baru aja ketemu co sialan..'
'koq kamu blg gitu, coba cerita dulu..'
'saya lagi jln tiba2 dia dateng dan colek dada saya, ga ada malunya, si sialan itu kurang ajar...'
'ah itu ga seberapa, terus?' tanya si dokter yg ga kuat liat si gadis praktekin nyoel toketnya yg sexi...
'trus dia raba paha saya, sialan!' cerita si gadis sambil membelai paha mulusnya...
'ah, ga apa apa.. terus?'
'trus dia buka beha saya, sialan!' sambil gadis itu bener2 buka bhnya..

'glek.. trus-trus...'
'trus dia masukin anunya ke punya saya, sialan!' lanjut si gadis sambil bergaya sedang bercinta dan mengajak si dokter menggagahi dirinya
'trus-terus, ayo terus gimana? si dokteryg skr ngap-ngapan nanya sambil menggagahi si gadis kece
' trus dia cerita dia kena hiv..'
'SIALAN!'

Tuesday, February 17, 2009

Mengapa Puyer ?

Hiks ... bacanya terharu.. sekalian bangga banget punya dokter seperti ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan bu dokter

posted by Najwa Safina
Tue Feb 17, 2009 12:49 am (PST)

Ketika saya lulus menjadi seorang dokter, terus terang saya bagaikan orang buta yang baru pernah melihat merasa senang kegirangan karena status dokter yang saya sandang, tetapi masih meraba raba juga karena belum tahu apa yang harus saya lakukan.

Menangani pasien pertama kalinya (sebagai seorang dokter tentunya) merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Pasien datang, mendengarkan keluhannya, memeriksa, dan memberikan obat. Puas? Tentu saja puas rasanya. Pasien puas, karena keluhan berkurang bahkan menghilang. Dan bulan berikutnya pasien ada keluhan mereka kembali kepada saya karena merasa cocok dengan obat yang saya berikan.

Sebagai catatan ketika saya bilang pasien, termasuk orang tua pasien untuk pasien saya yang tergolong anak anak. Anggap saja saya sedang membicarakan
pasien anak anak.

Tapi apakah saya sudah menangani pasien tersebut dengan baik? Tentu saja TIDAK jawabannya.
Mengurangi keluhan pasien bukan berarti menyembuhkan, bahkan tanpa disadari bisa membahayakan pasien.

Ada satu titik balik dimana saya menyadari terdapat kesalahan dalam penanganan pasien saya selama ini, dan di kemudian hari saya bertemu dengan komunitas yang membuat saya semakin belajar dan belajar setiap harinya.

Sebelumnya puyer menjadi andalan saya, pasien (orang tua pasien) puas, waktu
yang dibutuhkan untuk menangani pasien jauh lebih singkat. Cukup berkata: oh
ini batuk pilek, obatnya cukup minum, 3 hari tidak sembuh balik kembali. Rutinitas yang saya lakukan selama sekitar 6 bulan pertama saya menjadi dokter.

Sampai suatu saat saya menemukan suatu kejadian yang begitu menampar saya.
Datanglah seorang pasien berumur 5 bulan, datang dengan keluhan mencret mencret. Seperti biasa, meresepkan puyer sepertinya sudah ada cetakan tersendiri di otak saya. Lalu saya berikan resep puyer yang kurang lebih fungsinya menghentikan kerja usus, sehingga keluhan mencret mencret berkurang. Apa yang terjadi. Apakah puyer yang saya berikan menjadi solusi atas kasus pasien saya? Ternyata tidak. Pasien saya tidak mencret lagi, tetapi jatuh ke
dalam kondisi dehidrasi sedang. Karena apa? Sudah merasa yakin dengan puyer
yang saya berikan, sehingga lupa dengan tata laksana diare akut yang seharusnya, pemberian larutan rehidrasi oral.

Sejak saat itu saya menyesal, bukan hanya menyesali perbuatan saya yang melupakan guideline, tetapi penyesalan itu dilanjutkan dengan penyesalan dengan entah berapa resep puyer yang saya berikan.

Terkadang saya merasa, Tuhan sangat baik terhadap saya. Masih menuntun saya,
meskipun dengan tamparan, ke jalan yang seharusnya.

Ketika saya masih merasa tidak ada yang salah dengan puyer, tapi di komunitas itu memperdebatkan penggunaan puyer. Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri. Saya yang salah atau mereka yang menentang puyer yang tidak mengerti.

Lalu pertanyaan pertanyaan yang mengalir di komunitas itu membuat saya lebih
membuka mata saya, memanfaatkan teknologi canggih untuk memperbaharui
keilmuan saya. Dan ternyata sebenarnya itu bukan ilmu baru, hanya saja saya
yang terlalu malas dan bodoh untuk mengamalkan pelajaran saya yang semestinya.

Mengapa saya harus memberikan puyer? Saya tidak hidup di daerah yang terpencil. Dimana akses untuk obat obatan dosis anak mungkin sulit sekali.
Dan kalaupun membutuhkan obat hanya satu jenis saja, tapi rasanya parasetamol sirup bisa diusahakan, hanya kalau terdesak baru menggunakan
parasetamol tablet yang dihancurkan (note hanya parasetamol tablet)

Ya... saya telah bermain main dengan 3 hal. Puyer, polifarmasi, dan pengobatan yang tidak rasional.

Lalu kemanakah ilmu farmakologi saya. Menguapkah seiring dengan kenaikan tingkat saya. Lupakah saya bahwa setiap obat dikemas sedemikan rupa sesuai dengan cara penggunaannya. Lupakah saya dengan interaksi obat. Dua obat yang
dicampur saja risiko interaksi obat cukup berat, apalagi tiga atau empat macam obat. Mungkin saya tidak lupa dengan interaksi obat, tetapi saya tidak paham betul dengan interaksi obat.

Lalu dimana ilmu klinis saya. Apa iya setiap pasien dengan keluhannya, yang
diterapi adalah keluhannya bukan diagnosis atau penyakit itu sendiri. Apa iya saya harus memberikan puyer hanya karena pasien saya (orang tua pasien) merasa hanya puyer yang manjur untuk keluhan anaknya. Apa iya saya harus memberikan puyer hanya untuk mempersingkat waktu kunjungan dibanding saya harus menjelaskan panjang lebar mengenai diagnosis penyakitnya. Apa iya demi semua kenyamanan orang tua, maka anak kecil harus menerima risiko yang ditimbulkan oleh puyer.


Apa iya memberikan puyer supaya harga obat yang harus ditebus bisa lebih
murah? Lalu bagaimana dengan risiko penyakit yang ditimbulkan dari puyer,
apa bisa tergantikan dengan harga obat yang murah.

Saya tidak bisa membayangkan ketika parasetamol berinteraksi dengan diazepam atau berinteraksi dengan luminal, akan menghasilkan metabolit yang justru membahayakan hati anak tersebut yang nota bene belum berfungsi dengan baik. Baru parasetamol saja, belum obat obatan yang lainnya.

Saya belajar dan belajar lagi. Sekali lagi Tuhan sayang sekali kepada saya. Masih diberikannya kesempatan saya untuk memperbaiki diri saya.


Mengapa harus puyer? Jikalau keluhan yang disebabkan oleh virus sembuh
sendiri dan tidak membutuhkan terapi apapun. Mengapa harus puyer, jika
parasetamol sangat terjangkau dan dapat didapatkan di puskesmas dengan
gratis. Kalaupun tidak ada dosis yang sesuai, mengapa tidak sertakan pemberian pipet atau spuit tanpa jarum untuk membantu pemberian obat. Atau parasetamol tablet pediatrik pun bisa digunakan.

Apa tidak tahu bahwa anak batuk tidak boleh diberi obat batuk?

Apa tidak tahu bahwa diare tidak boleh diberi obat batuk?

Apa tidak tahu bahwa muntah tidak boleh diberi obat batuk?
Lalu apa gunanya diagnosis? Terapi sesuai dengan diagnosis bukan "a pill for
an ill". Obat obatan simtomatik yang terkandung di puyer, tidak menyelesaikan permasalahan, justru menimbun penyakit diam diam, efeknya tidak hari ini tapi di masa depan.

Mengapa harus puyer, jikalau saya yang tidak paham mengenai farmakodinamis dan farmakokinetik obat ini tidak berpikir secara higinis. Bersihkah mortar tempat membuat puyer, dapat menjamin tidak tercampur dengan bahan bahan lain atau tidak?

Mengapa harus puyer, jikalau saya yang harus menguasai keluhan umum, harus
membabi buta dengan memberikan puyer pada setiap keluhan pasien tetapi tidak
mengindahkan kaidah "good manufacturing practice", dan apakah saya bisa menjamin bahwa campuran itu homogen dan pembagian dosisnya sudah sesuai
ditiap-tiap bungkus puyer itu.

Apa saya bisa menjamin semuanya. Menjamin bebas dari interaksi obat, menjamin kebersihannya, menjamin bahwa obat itu fungsinya tidak berubah
ketika bentuknya tidak sesuai dengan yang seharusnya?

Apa disekitar saya begitu terbatasnya sehingga saya tidak bisa memberikan
obat yang berbentuk sirup?

Apa saya tidak bisa meyakinkan kepada pasien bahwa, yang diterapi adalah
penyakit/diagnosis bukan keluhannya?

Apakah dektsrometorfan, luminal, efedrin, diazepam, kodein, ambroksol,
bromheksin, papaverin, teofilin, antibiotik, dan beberapa jenis obat lainnya
yang sering diresepkan pada puyer anak sebegitu mendesaknya untuk diberikan
kepada anak sehingga melupakan kaidah pengobatan yang seharusnya?
Apakah itu menjadi nilai ekonomis?

Jika puyer membantu, maka mengapa tidak ada standar dalam pembuatan puyer?
Apakah setiap dokter sama seperti rumah makan memiliki resep tersendiri dalam pemberian obatnya? Lalu apa bedanya ilmu yang dipelajari? Apa gunanya Guideline, apa gunanya text book?

Sampai saat ini saya tetap berkata tidak kepada puyer untuk menghindari diri
dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan sebelumnya, Karena menjadi
dokter adalah amanah yang cukup berat. Memegang janji antara saya dengan
Tuhan saya Allah SWT. Jika saya tidak menggunakan puyer semata mata saya
takut dengan sang Khalik. Takut tidak menjalankan amanah dengan sebaik baiknya.

--
najwa's lovely aunty: ordinary doctor ordinary person ordinary dreamer

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=50092889237&ref=nf

Tuesday, February 10, 2009

Mulut Termuda

Seorang jenius bertanya kepada dua org muridnya....
"hayo 'mulut' wanita kan ada dua... mulut mana yg usianya lebih tua?" tanya sang jenius...

"mulut bawah pak, krn mulut bawah udah berjenggot, mulut atas belom.." jawab murid I
"mulut bawah dong pak.. karena mulut bawah udah ompong, yg atas belom.. iya kan?" jwb murid II

"salah anak2... yg bener mulut bawah lebih muda."
"kok bisa pak?"
"Iya dong.. mulut atas makana nasi, sedangkan mulut bawah kan masih ngedot... betul?"

BELAJAR GoBLoK DARI BOB SADINO

Pasti Anda bingung dengan judulnya, 'goblok' kok dipelajari! Awalnya saya juga bingung, tapi setelah bertemu langsung dengan Om Bob (pangilan akrab Bob Sadino), baru percaya bahwa statement itu benar.
Bob Sadino terkenal dengan pengusaha yang 'Nyleneh' gaya dan pola pikirnya. Sejak dari jaman Soeharto, dia terkenal dengan 'kostumnya' yang selalu bercelana pendek. Begitulah cara Om Bob bertemu dengan semua presiden negeri ini.
Di kediamannya di kawasan Lebak Bulus sebesar 2 hektar, dia membuat kami pusing dengan statement-statementnya yang super Nyleneh. Misalnya dia tanya,"Menurutmu kebanyakan orang bisnis cari apa Jay?" Spontan kita jawab,"Cari untung om!" Kemudian Om Bob balik menjawab,"Kalo saya cari rugi!"

Dia menjelaskan, kalo bisnis cari untung, apa selamanya untung? Sama juga kalo bisnis cari rugi, apa selamanya rugi? Maknanya adalah, rugi tak perlu ditakuti. Bahkan karyawan Kemchicks (pabrik daging olahan) dan Kemfarms (exportir sayur dan buah) diijinkan untuk berbuat salah. Sampai-sampai ada karyawan yang pernah membuat kerugian US$ 5 juta dan masih bekerja sampai sekarang.
Goblok atau Pintar?

Trus apa maknanya belajar 'Goblok'?

Bukankah banyak orang pandai tapi tak berhasil dalam usaha atau bahkan melangkahpun tak berani.

Om Bob bilang, kalo orang 'goblok' itu tak pandai menghitung, makanya lebih cepat mulai usaha. Kalau orang pinter, menghitungnya 'njlimet', jadi nggak mulai-mulai usahanya.

Orang 'goblok' berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang pinter, berfikir urut. Orang pintar tidak percayaan dengan orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada yang dapat menggantikan dirinya.

Nah, kalau orang 'goblok', dia akan mencari orang pintar dan harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya.

Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untk menutupi kekurangannya. "Ehm, situasi ekonominya lagi down", atau "Pemerintah nggak mendukung saya", kata orang pintar.

Lain hal dengan orang 'goblok', jika ketemu gagal, nggak merasa kalau dia gagal, karena dia merasa sedang 'belajar'.

Bahkan Om Bob juga mengatakan bahwa dia sebagai orang 'goblok' tidak melakukan perencanaan usaha, target ataupun mengenal cita-cita.

Namun sebaliknya, semua karyawannya harus memiliki target dan perencanaan. Buahnya, orang 'goblok' yang jadi bossnya orang pintar.

Itulah adilnya Tuhan menciptakan orang pintar dan orang 'goblok'.
Masalahnya sekarang, siapa yang merasa pintar, siapa yang merasa goblok?
Trus, enakan mana jadi orang pintar atau orang 'goblok'?
Jika Anda semakin bingung dengan tulisan saya, artinya bagus, berarti Anda mulai ....Goblok!
Kalau Anda emosi , berarti Anda pintar. Itu juga kata orang Om Bob lho..!
Filosofi 'goblok' Bob Sadino dia ibaratkan seperti air sungai yang sedang mengalir. Ketemu batu di depan, ya belok kanan atau belok kiri. Namun seperti air di sungai, kitapun harus siap dikencingi, dibuangi sampah dan kotoran-kotoran yang lain. Jadi, pilih mana?
GOBLOK atau PINTAR?

"Pengusaha tak harus pintar dalam segala hal. Tapi harus pintar mencari orang pintar